al barkasi

SUGENG RAWUH ing AL BARKASI

Sabtu, 04 Mei 2013

URAIAN HADIST TENTANG ILMU


TUGAS MATA KULIAH
BAHSUL KUTUB IV
SEMESTER VII NON REGULER FAKULTAS TARBIYAH
Dosen Pengampu : H. Subaidi, S.Pd.I., M.Pd.



Disusun Oleh :
1.     M. Mahsufun Nuha          
2.     Muadhom                          

 

INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA’ ( INISNU ) JEPARA
TH.  PELAJARAN 2012/2013]
BAB I
PENDAHULUAN
Rasanya tak habis-habisnya kita mesti bersyukur kepada Allah, karena dari limpahan rahmat dan karuniaNya, hingga kini kita tetap tegar menjaga keimanan kita sebagai tingkat nikmat yang paling tinggi. Sanjungan shalawat kita sampaikan kepada junjungan kita Rasulullah SAW, yang mana telah berjasa menyampaikan kebenaran kepada kita semua.
Ilmu, telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa. Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat Al-‘Alaq, di dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Allah mengajarkan kita dengan qalam – yang sering kita artikan dengan pena.. Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada orang lain. Kata Qalam tidak diletakkan dalam pengertian yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala perangkatnya termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kata qalam.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Hadits dari Abdillah bin Umar
وعن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال قليل العلم خير من كثير العبادة وكفي بالمرء فقها اذا عبد الله وكفى بالمرء جهلا اذا اعجب برأيه. رواه طبرانى فى الاوسط وفى اسناده اسحاق بن اسيد وفه توثيق لين ورفع هذا الحد يث غريب قال البيهقى ورويناه صحيحا من قول مطرف بن عبد الله  بن الشخير ثم ذكره والله اعلم.                                                                 
Artinya : Hadits di riwayatkan dari Abdillah bin Umar Ra, dari rosulillah SAW bersabda : sedikitnya ilmu itu lebih baik daripada banyaknya ibadah, Dan setiap indifidu cukup mempalajri ilmu fiqih ketika mau beribadah kepada Allah. Dan setiap individu cukup bodoh ketika mengagung - agungkan pendapatnya sendiri.( HR imam Tobroni didalam kitab AL ausad di ambil dari Ishaq bin Asid, hadits ini di angkat karna ada kesamaran. Dan imama Baihaqi meriwayatkan dengan hadits Shoheh yang di ambil dari perkataan imam matruf bin abdillah bin Syakhir Kemudiaan imam baihaqi berkata Wallahu A’lam.)
B.          Hadits dari Abi Hurairoh RA

عن ابى هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من نفس عن مؤمن كربة من كرب لدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة, ومن ستر مسلما ستره الله فى الدنيا والاخرة  ومن يسر على معسر يسر الله عليه فى الدنياوالاخرة, والله فى عون العبد ما كان العبد فى عون اخيه ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا الى الجنة وما اجتمع قوم فى بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويدراسونه  بينهم الى حفتهم الملائكة ونزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وذكرهم الله فيمن عنده ومن ابطأ به لم يسرع به نسبه رواه مسلم وأبو داود والترمذى والنسائ وابن ماجه وابن حبان فى صحيحه والحاكم وقال صحيح على شرطهما .                                                               
Artinya : Hadits di riwayatkan dari Abi Hurairoh RA Rasulullah SAW Bersabda : Barang siapa yang meringankan kesusahan orang mukmin, dari kesusahan dunia,  Maka Allah akan meringankan kesusahan orang itu di hari kiamat, Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan orang mukmin maka Allah akan menutupi kejelekan orang itu di dunia dan akhirat,Barang siapa yang memudahkan Urusan orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkan  urusan orang itu di dunia dan akhirat, Allah akan selalu menolong hambanya yang suka menolong saudaranya.  Dan Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surge. Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam masjid dia mengambil Al Quran  dan di antara mereka membacanya kecuali malaikat- malaikat membentangkan sayapnya   dan menurunkan ketentraman dan malaikat menyelubungi dengan kasih sayang

C.  Uraian Analisa
a.      Keutamaam Orang Yangberilmu Dibanding Ahli Ibadah
Diantara hikmah ilahi, Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan kegelapan sebagai waktu untuk beristirahat bagi makhluk hidup dan untuk mendinginkan suhu udara bagi tubuh makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan. Allah tidak membiarkan malam gelap dan kelam tanpa ada cahaya sedikitpun, sehingga makhluk hidup tidak dapat bergerak dan beraktifitas. Itu merupakan konsekuensi hikmah Allah-Azza Wa Jalla-; Dia menerangi malam dengan sedikit cahaya. Berhubung makhluk hidup kadangkala butuh bergerak, berjalan dan melakukan pekerjaan pada malam hari yang tidak dapat dilakukan pada siang hari, karena sempitnya waktu siang, ataukah karena panasnya yang sangat, ataukah karena takut keluar pada siang hari sebagaimana halnya kebanyakan hewan-hewan. Lantaran itu, Allah -Subhanahu wa Ta’la-mengerahkan tentara-tentara cahaya untuk membantu makhluk hidup di kegelapan malam. Allah menyediakan bulan dan bintang pada malam hari, sehingga makhluk hidup dapat melakukan banyak pekerjaan, misalnya bersafar, bercocok tanam atau pekerjaan lainnya yang biasa dilakukan oleh para petani.
Cobalah perhatikan cahaya rembulan di kegelapan malam dan cobalah renungi hikmah yang tersembunyi di balik itu. Allah menciptakan cahaya bulan tidak seterang cahaya matahari agar tampak perbedaan antara siang dan malam. Sebab jika sama terangnya, maka akan luputlah hikmah pergantian siang dan malam yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Cobalah perhatikan hikmah yang Allah ciptakan pada bintang-bintang yang bertaburan di langit dan keajaiban penciptaannya. Bintang-bintang itu menghiasi gelapnya malam sehingga menambah kecantikan langit di malam hari dan laksana kompas bagi manusia dalam menentukan arah jalan yang tidak ia ketahui di darat dan di lautan.
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah menjadikan kedua makhluk ini sebagai perandaian dan perumpamaan yang indah, tatkala Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
فضل العالم على العابد كفضل القمر على ساتر الكواكب  ان العلماء ورثة الامبياء ان الامبياء لم يوارثوا دينار ولا درهما  انما ورثوا العلم  فمن اخذه  اخذ بحط وافر.

 Artinya (“Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak.” [HR.Abu Dawud (3641), At-Tirmidzi(2682)].
Mungkin akan timbul pertanyaan di benak kita, mengapa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mempermisalkan orang yang berilmu dengan bulan purnama, sedangkan ahli ibadah dengan bintang-bintang? Oleh karenanya, marilah kita menyimak penjelasan dari para ulama kita.
a)      Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali-hafizhohullah- berkata dalam menjelaskan hadits ini:”Dipermisalkan keutamaan orang alim dengan ahli ibadah seperti keutamaaan bulan purnama atas seluruh bintang merupakan permisalan yang sesuai dengan kondisi bulan purnama dengan bintang-bintang. Sebab bulan purnama menerangi ufuk dan memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru alam. Demikianlah keadaannya orang yang alim. Adapun bintang-bintang, maka cahayanya tidak melampaui dirinya sendiri atau sesuatu yang dekat dengannya. Ini adalah kondisinya ahli ibadah. Cahaya ibadahnya hanya mampu menerangi dirinya, tanpa selain dirinya. Kalaupun cahaya ibadahnya mampu menerangi selainnya, maka jangkauan cahayanya tidaklah jauh sebagaimana terangnya bintang yang hanya sedikit”. [Lihat Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhus Shoolihin (2 /472)]
b)     Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata, “Di dalam perumpamaan tersebut terdapat mutiara yang lain, yaitu bahwa kejahilan laksana malam dalam kegelapannya. Para ulama dan ahli ibadah seperti kedudukan bulan dan bintang-bintang yang terbit dalam kegelapan itu. Keutamaan cahaya seorang yang berilmu dalam kegelapan itu dibandingkan cahaya seorang yang ahli ibadah seperti keutamaan cahaya bulan dibandingkan bintang-bintang”.[Lihat Miftah Dar As-Sa'adah (1/259), tahqiq Ali bin Hasan Al-Atsariy].
Jika kita memperhatikan keadaan bulan purnama, maka kita menyaksikannya, walaupun dia hanya sendiri, namun sudah cukup untuk menerangi gelapnya malam. Tetapi, walaupun jumlah bintang bermilyar-milyaran, namun jumlah yang banyak itu tidak mampu menerangi malam. Hal ini disebabkan karena cahaya bintang sangatlah sedikit, sehingga ia hanya mampu menerangi dirinya sendiri, tanpa yang lainnya.
c)      Al-Qodhi Iyadh -rahimahullah- berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan orang yang berilmu dengan bulan, ahli ibadah dengan bintang-bintang, karena kesempurnaan ibadah, dan cahayanya tak akan melampaui diri ahli ibadah tersebut. Sedang cahaya orang berilmu akan terpancar kepada yang lainnya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/481)]
Orang yang berilmu akan menjadi berkah dimanapun ia berada. Ia bisa mengajari manusia dengan ilmu yang bermanfaat. Sehingga manusiapun bisa berjalan di muka bumi dengan cahaya ilmu yang akan menuntun mereka dalam gelapnya alam kejahilan. Seluruh manusia akan mengambil manfaat darinya, baik yang jauh maupun yang dekat, yang besar maupun yang kecil sebagaimana para makhluk dapat mengambil manfaat dari cahaya bulan purnama baik yang jauh maupun yang dekat. Bahkan hewan-hewan yang melata di muka bumi serta ikan- ikan yang berada di dasar lautan merasakan manfaatnya sehingga merekapun memintakan ampunan bagi orang-orang yang berilmu. Hal ini sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
وَ إِنَّ اْلعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِيْ السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِيْ الأَرْضِ حَتَّى اْلحِيْتَانِ فِيْ المَاءِ
“ Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh para makhluk yang berada di langit dan di bumi bahkan sampai ikan-ikan besar yang berada di dasar lautan ” [HR. Abu Dawud (3641) dan At-Tirmidzi (3682)].
Iniliah keutamaan ilmu. Namun perlu diketahui, ketika kita mendapatkan kata “ilmu” ( الْعِلْمُ ) di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka yang dimaksud adalah ilmu agama . Yaitu ilmu tentang syari’at Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya -Shollallahu alaihi wa sallam- berupa wahyu yang menjadi keterangan dan petunjuk. Telah dimaklumi bahwa para Nabi -alaihi salaam- tidaklah mewariskan kepada umatnya ilmu perekonomian dan perindustrian atau yang berhubungan dengannya. Namun, yang mereka wariskan hanyalah ilmu syari’at alias ilmu wahyu, bukan yang lainnya!! [Lihat Kitab Al-Ilm (hal. 9) karya Syaikh Al-Utsaimin, cet. Dar Al-Itqon, Mesir]
Namun bukan berarti mempelajari ilmu selain agama tidaklah penting. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu-ilmu tersebut memiliki manfaat yang bisa kita rasakan. Akan tetapi, ilmu-ilmu tersebut pemanfaatannya memiliki dua sisi. Jika ilmu-ilmu tersebut digunakan untuk bermaksiat dan membuat kerusakan di muka bumi, maka ia akan menjadi suatu hal yang tercela. Namun Jika digunakan untuk menopang ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agama-Nya serta manusia pun dapat mengambil manfaat dari ilmu-ilmu tersebut, maka ilmu-ilmu tersebut merupakan suatu kebaikan dan kemaslahatan. Bahkan bisa menjadi wajib mempelajarinya dalam keadaan tertentu, apabila perkara itu masuk dalam firman Allah -Azza wa Jalla-
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang”. (QS. Al-Anfal: 60).
Akan tetapi, kondisi kaum muslimin pada hari ini sangat memprihatinkan. Mereka berlomba-lomba mengejar ilmu dunia dan lari meninggalkan ilmu agamanya. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, ketika mereka menganggap bahwa mempelajari ilmu agama adalah sebuah kemunduran. Setan menghias-hiasi di mata mereka bahwa ilmu-ilmu dunia merupakan jalan menuju kesejahteraan hidup dan kebahagiaan. Sedangkan mempelajari ilmu agama Allah akan membuat hidup sengsara, miskin dan tidak memiliki masa depan. Hal ini bisa kita lihat di sekitar kita. Para orang tua sekarang merasa malu jika ia memasukkan anak-anaknya untuk belajar di pondok-pondok pesantren. Sebaliknya,amat bangga jika menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah terkenal yang tidak punya perhatian dengan agama, walaupun harus membayar mahal. Mereka berusaha dengan keras agar anaknya bisa masuk ke sekolah tersebut, walaupun harus gali lobang, tutup lobang dan makan apa adanya. Tetapi ketika anak-anaknya menjadi brandalan dan sampah masyarakat, serta bodohnya minta ampun, maka merekapun mulai mencari pondok-pondok pesantren terdekat untuk anak brandal mereka. Ibaratnya pesantren adalah bengkel bagi barang rongsokan yang tidak lagi bisa dimanfaatkan.
Wahai kaum muslimin, apakah ini sumbangsih kalian kepada islam!!! Pada hari ini, Islam juga butuh dengan otak-otak yang jenius. Pesantren-pesantren juga butuh dengan anak-anak yang cerdas sehingga dapat melahirkan ulama-ulama seperti Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’iy, dan Ahmad -rahimahullah- .
Lalu bagaimanakah cara kita untuk melindungi diri dan keluarga kita dari api neraka jika kita tidak memiliki ilmu agama!?! Kita tidak mengetahui mana yang halal dan yang haram. Oleh karenanya, kita harus segera menyadari sebelum semuanya terlambat bahwa tidak ada jalan menuju kebahagiaan yang hakiki kecuali harus kembali mempelajari agama yang mulia ini. Bukan berarti semua orang harus menjadi ulama atau ustadz, sebab kaum muslimin juga butuh kepada polisi, montir, dokter, dan yang lainnya. Akan tetapi yang kami maksudkan adalah setiap muslim memahami dengan benar prinsip-prinsip agamanya yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- . Sebab, seseorang yang memiliki ilmu agama akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan, bukan hanya di dunia saja, juga tetapi di alam barzakh dan di akhirat kelak. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,
b.      Internalisasi Nilai-nilai Ilmu Islam Dalam Pola Kehidupan
Agama Islam sebagai agama penyempurna agama-agama terdahulu, sebagai petunjuk yang benar bagi seluruh umat manusia adalah agama yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Islam mengatur segala sisi kehidupan mulai dari hal-hal terkecil sampai yang paling besar. Mulai dari mengatur diri sendiri sampai mengatur sebuah daulah (negara). Yang lebih penting lagi bahwa agama Islam diturunkan untuk rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk umat Islam itu sendiri.
Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam tentunya juga harus bisa mengayomi semua orang yang berada atau berdampingan dengan umat muslim itu sendiri. Hal itu sebenarnya sudah pernah terjadi pada saat masa kegemilangan Islam di berbagai bagian dunia seperti Baghdad, Spanyol, dan lain sebagainya. Disana terlihat betapa kemajuan Islam di berbagai sisi kehidupan baik pendidikan, teknologi, politik, dan lain sebagainya.
Masyarakat yang hidup saat itu pun tidak hanya dari kalangan kaum muslim. Disana juga hidup berbagai macam agama diantaranya adalah Yahudi dan Nasrani, tapi mereka bisa hidup berdampingan dengan tentram dan damai. Inilah bukti yang pernah terjadi bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Nah, apakah hal itu tidak mungkin terjadi kembali? Bagaimana dengan bangsa Indonesia yang merupakan negeri dengan penduduk Islam terbesar di dunia?
Indonesia merupakan negara yang sangat beragam baik suku, budaya, ras, dan agama. Negara yang merupakan mayoritas penduduknya muslim ini menyimpan potensi yang sangat besar baik dari sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Hal ini sebenarnya merupakan peluang yang sangat besar jika kita semua mampu memanfaatkannya dengan baik. 
Dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, Indonesia sebenarnya sudah cukup terwarnai oleh nilai-nilai Islam itu sendiri. Hal itu bisa dilihat dari proses Indonesia menuju kemerdekaan. Pejuang-pejuang yang sebagian besar muslim itu termasuk santri dan para kiai, berjuang keras untuk mengusir penjajah dari negeri ini. Banyaknya organisasi-organisasi Islam yang berdiri pada waktu itu juga banyak memberikan sumbangan perjuangan kepada bangsa Indonesia.
Tidak hanya ketika berjuang merebut kemerdekaan, ketika Indonesia sudah merdeka pun umat Islam merupakan kelompok sentral untuk mengisi kemerdekaan RI. Perjuangan untuk meletakkan nilai-nilai Islam pun dilakukan. Hal ini wajar karena kemerdekaan yang diraih juga merupakan sumbangsih dari umat Islam pada waktu itu. Konstitusi yang disusun pada awal kemerdekaan pun hampir sempurna dengan adanya Piagam Jakarta yang merupakan implementasi dari perwujudan nilai-nilai Islam. Meskipun dengan berjalannya waktu, dengan pertimbangan berbagai macam faktor, akhirnya piagam jakarta tersebut diganti sebagai Pnacasila yang berlaku sampai saat ini.
Lalu bagaimana dengan kondisi Islam dan Indonesia saat ini? Kita lihat kondisi bangsa ini yang terkena berbagai macam masalah yang sangat kompleks. Mulai dari kasus korupsi, penggelapan pajak, pornografi, pergaulan bebas, kemiskinan dan lain sebagainya. Masalah-masalah yang datang pun begitu bertubi-tubi. Lalu bagaimana peran umat Islam di Indonesia saat ini?
Islam diturunkan sebagai agama yang benar. Umat kita adalah umat yang terbaik yang seharusnya dimana ada umat Islam maka disanalah peradaban utama berkembang. Ada beberapa sebab tentang krisis multidimensi yang dialami Indonesia, namun diantara sebagian banyak masalah tersebut saya berpandangan bahwa hal itu berawal dari terjadinya degradasi nilai-moral dan spiritual.
Begitu banyak orang pintar di negeri ini, begitu banyak orang cerdas di negeri ini. Bahkan orang-orang yang duduk di pemerintahan pun merupakan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing. Tetapi justru ornag-ornag yang tersandung masalah-masalah seperti korupsi dan lain-lain merupakan orang-orang yang pandai secara intelektual.
Maka disinilah peran umat Islam untuk membumikan nilai-nilai moral dan spiritualnya yang bersumber dari wahyu Ilahi. Nilai-nilai itu harus bisa meresap dalam pribadi tiap-tiap orang. Sehingga apapun yang dilakukan selalu berpijak dari nilai-nilai yang ada tersebut. Bila nilai-nilai itu sudah terinternalisasi maka yang diperlukan selanjutnya adalah mengembangkan ranah intelektual pada setiap individu.
Iman dan ilmu tentunya tidak bisa terlepas dari diri seorang muslim. Kita tentu harus mempunyai ilmu yang mumpuni untuk membangun bangsa ini ke depannya. Sebagaimana dalam kitab suci bahwa orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan ditinggikan beberapa derajat.
Satu hal lagi yang diperlukan bangsa ini adalah suatu kepemimpinan yang mampu membawa bangsa ini sebagai simbol peradaban. Kepemimpinan islam harus bisa menjawab tantangan dan kebutuhan negeri ini. Kepemimpinan negeri ini harus bisa mengelola secara proporsional kemajemukan yang ada. Bangsa ini memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk menjadi jembatan komunikasi umat dan perekat kemajemukan, sehingga dapat menggerakkan dan menyalurkan setiap potensi umat dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Untuk mencapai visi kepemimpinan tersebut, maka hanya kepemimpinan Islamilah yang dapat mengembannya. Karakter tersebut diantaranya adalah seorang pemimpin harus bisa mengedepankan musyawarah. Seorang pemimpin juga harus memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan yang maksimal kepada umat. Serta kepemimpinan Islam harus mampu menjadi uswatun hasanah. Dengan aspek-aspek tersebut diharapkan Indonesia dapat menjadi negeri yang baldatun, thayyibun wa rabbun ghafur dan sebagai pioner peradaban utama.


BAB III
KESIMPULAN
A.    Orang berilmu bak bulan purnama dan Ahli ibadah bagaikan bintang
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah menjadikan kedua makhluk ini sebagai perandaian dan perumpamaan yang indah, tatkala Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, yang Artinya (“Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak.” [HR.Abu Dawud (3641), At-Tirmidzi(2682)].
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali-hafizhohullah- berkata dalam menjelaskan hadits ini:”Dipermisalkan keutamaan orang alim dengan ahli ibadah seperti keutamaaan bulan purnama atas seluruh bintang merupakan permisalan yang sesuai dengan kondisi bulan purnama dengan bintang-bintang. Sebab bulan purnama menerangi ufuk dan memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru alam. Demikianlah keadaannya orang yang alim. Adapun bintang-bintang, maka cahayanya tidak melampaui dirinya sendiri atau sesuatu yang dekat dengannya. Ini adalah kondisinya ahli ibadah. Cahaya ibadahnya hanya mampu menerangi dirinya, tanpa selain dirinya. Kalaupun cahaya ibadahnya mampu menerangi selainnya, maka jangkauan cahayanya tidaklah jauh sebagaimana terangnya bintang yang hanya sedikit”. [Lihat Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhus Shoolihin (2 /472)]
B.     Internalisasi Nilai-nilai Ilmu Islam Dalam Pola Kehidupan
Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam tentunya juga harus bisa mengayomi semua orang yang berada atau berdampingan dengan umat muslim itu sendiri. Hal itu sebenarnya sudah pernah terjadi pada saat masa kegemilangan Islam di berbagai bagian dunia seperti Baghdad, Spanyol, dan lain sebagainya. Disana terlihat betapa kemajuan Islam di berbagai sisi kehidupan baik pendidikan, teknologi, politik, dan lain sebagainya.

Daftar pustaka
·         Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 116 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. 

PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI PENDIDIKAN YANG TELADAN



                                                     
A. MUKADDIMAH

Secara historis kita melihat perjuangan para pakar ilmu islam pada pertengahan abad ke – 20 lalu, pasti akan kagum dan bangga, karena pada abad itulah dunia islam mencapai kejayaan dalam dunia kependidikan, seperti halnya pada masa pemerintahan ABBASIYAH yang mencapai masa keemasan ( العصر الذهب ) yang telah memajukan ilmu pendidikan islam, yang meliputi pendidikan Rohani ( التربية الروحنية ), pendidikan agama   ( التربية الدينية ), pendidikan akhlaq ( التربية الخلقية ) yang mana meliputi kebesan dan demokrasi dalam dunia kependidikan islam, yang mana pendidikan agamalah yang akan mendominasi dalam makalah dibawah ini: 

B. KEBEBASAN (DEMOKRASI) DALAM MENUNTUT ILMU                          
           
Pengaruh dari proses belajar mengajar dalam pendidikan islam sangatlah besar, dengan adanya kebebasan dan demokrasi, yang mana islam telah menerapkan adanya persamaan derajat dalam pembelajaran juga sebagai perantara untuk disampaikan kepada seluruh peserta didik, karena islam memberi kesempatan baik, kepada siswa dalam proses belajar dan mengajar. Maka dibukalah pintu – pintu masjid, pesantren dan sekolah untuk semua kalangan masyarakat. Dan disinilah mereka dapat menuntut ilmu, yang pada dasarnya tidak ada penekanan, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, orang luhur dan orang rendah dari macam – macam siswa, karena tidak ada keutamaan dalam islam bagi orang arab yang melebihi orang ’Ajam kecuali dengan taqwanya. Pengajaran dalam pendidikan islam sangatlah luas, semua sama bahkan mereka dapat belajar dengan gratis, tidak tergantungkan dengan umur, tidak ditentukan dengan beberapa tahun bahkan bulan yang telah ditentukan ataupun ijazah yang khusus dan derajat yang tinggi dalam mencapai hasil ujian. Dalam kaidah ataupun cara yang bagus dalam ihtiyarnya, ketika seorang pelajar telah menemukan kesenangannya dalam belajar hingga kemudian akan cinta atau suka terhadap ilmu, dan peserta didik akan selalu mempelajari ilmu – ilmu yang telah mereka dapatkan, sehingga timbullah pada diri peserta didik suka meneliti ( diskusi ) tentang ilmu. Maka dengan adanya cara atau metode itu akan sangat memudahkan pelajar dalam belajar, sehingga pesrta didik akan berani atau semangat dalam menuntut ilmu yang khususnya bagi peserta didik yang yang mempunyai kemampuan dan kecerdikan dalam hal itu.

Para pembesar – pembesar dalam islam tidak cukup hanya berdekap tangan saja melainkan dengan dijadikannya masji – masjid, pondok – pondok, tempat – tempat menimba ilmu, tempat – tempat hikmah yang digunakan untuk mengembangkan dalm belajar tetapi juga harus menghujadi dengan semangat yang tinggi untuk mewujudkan impian – impian, harapan, cita yang diinginkannya. Para pembesar islam mewaqafkan apa yang mereka punya agar digunakan untuk orang – orang muslim sebagai kekuatan yaitu tempat – tempat peserta didik yang kurang mampu / fakir dan miskin dapat mengikuti pelajaran, mendalami kecerdasannya, dapat unggul dalam berdiskusi, dan terus menerus menuntut ilmu.

Dan telah nampak dengan jelas terlihat dalam islam bahwasanya kebanyakan para pembesar, para ulama’, mereka lahir dari kalangan orang yang latar belakangnya miskin, seperti halnya : IMAM GHOZALI, IMAM SYAFI’I dan yang lainnya semoga Allah memberikan rahmat dan melapangkan kuburnya, maka dengan adanya kejelasan di dalam islam itu para ulama’ dan pembesar yang terlahir dari kalangan fakir tersebut yang pada akhirnya banyak peserta didik yang berguru, menimba ilmu kepada beliau, dengan daya ingat yang kuat  dan daya konsentrasi yang kuat maka dengan kemampuan yang dimiliki oleh mereka nama – nama mereka  diabadikan diantaranya ulama’, para sufi, para filosof, dan juga para ahli fiqih. Dan dari inilah dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya orang yang kaya bisa menjadi orang yang sukses dalam menimba ilmu, begitu pula sebalinya, karena Allah maha adil dan bijaksana.
           
Adapun metode dalam pembelajaran yang baik itu tidak di jalankan dengan jalan yang terbatas akan tetapi metode yang baik itu seharusnya peserta didik dalam setiap materi mereka mempelajari yang telah ditentukan dalam setiap bab atau materi yang akan disampaikan akan diajarkan sesuai dengan kitab yang telah di tentukan, dan jika telah selesai mempelajari kitab – kitab tersebut atau sudah cukup maka akan diganti dengan kitab yang lain yang lebih tinggi tingkatannya dari yang sebelumnya, sampai habislah masa pembelajaran kitab yang telah diinginkan dengan terus menerus sampai peserta didik merasa sudah cukup  

C. KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU AGAMA

طلب العلم فريضة علي كل مسلم ومسلمة

Sesungguhnya Islam telah mewajibkan atas setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu agama, dengan sebab adanya kewajiban itu maka para orang kaya tergugah hatinya untuk mendirikan tempat belajar mulai dari membangun masjid, pesantren, sekolah, perpustakaan dan tempat – tempat kitab yang mana telah disediakan alat – alat yang dibutuhkan oleh peserta didik pada saat belajar yaitu buku – buku, alat – alat tulis dan sebagainya. juga sebagai ajang untuk mendekatkan diri serta mendapatkan ridho dari Allah SWT, hingga terwujudnya hidayah dari Allah, risalahnya menuju kesempurnaan, serta mensyiarkan ilmu / mengembangkan pendiidkan , membersihkan diri dan memegang tausiyah / berpegang teguh kepada orang yang ‘alim  dengan segala  fadhilahnya, semata – mata hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Sehingga dari semua itu maka didirikanlah sekolah. Pondok pesantren, perpustakaan dan yang lainnya.

Dari semua itu orang – orang muslim yang kaya berlomba – lomba dengan mulia untuk mendirikan pesantren islamiyah untuk mengembangkan ilmu dan kecerdasan diantara muslimin. Demi terwujudnya kekuatan dalam mengembangkan pendidikan usaha yang dilakukan adalah Negara memberikan kebebasan misalnya yaitu pada masa salafi, mereka membangun tempat – tempat pendidikan dengan kesadaran, mereka besedekah dengan sesuatu yang dapat mereka sedekahkan, mereka tidak melalaikan tanggungan pajak Negara, tapi mereka saling tolong –menolong semata – mata hanya mendapatkan ridho Allah SWT.

Demi mengembangkan pendidikan pada masa salaf , Negara melaksanakan beberapa hal yaitu tulisan – tulisan petunjuk – petunjuk. Dan negara juga terjun langsung dalam membuat pembangunan pendidikan memperhitungkan dengan mempersiapkan sematang –matangnya dan juga membangun tempat – tempat keamanan serta lapangan pekerjaan yang mengaharapkan keberhasilan tinggi, dengan memuliakan para petinggi – petinggi islam dengan kekuatan sang raja maka terwujudnya pembangunan pendidikan negara pada masa salaf, dengan tidak menentukan pendidikan yang terbatas saja atau kecakapan ilmiyah, atau jual beli ( tukar menukar) pengajar atau ketentuan dari umurnya, supaya mereka tidak berhenti di tengah jalan dalam perjalanan pendidikan yang diinginkan oleh peserta didik baik pria maupun wanita. Maka dengan adanya kebebasan dari negara, dibukalah pendidikan dengan jurusan – jurusan atau bidang – bidang yang disukainya dalam belajar yang bersifat ilmiyah dan diniyah, kapanpun dan dimanapun di tempat – tempat pendidikan, dan inilah yang disebut (DEMOKRASI)   
           
Adapun demokrasi yang ada dalam proses belajar mengajar adalah bahwasanya pembelajaran dilakukan secara Cuma – Cuma (gratis), makan juga gratis, dan pendiriannyapun juga secara Cuma – Cuma, walaupun dalam tingkatan yang berbeda – beda, seperti pesantren, perguruan tinggi islam, dan ini merupakan suatu pandangan yang sangat besar dan jelas, yang disyiarkan dalam pembelajaran dalam sifat demokrasi islam yang terbentang dalam pendidikan. Yang tidak akan terkalahkan pada saat itu, sehingga pada suatu hari kekayaan ilmu – ilmu orang arab berpindah kepada Amerika dan Eropa. 
           
Dalam pendidikan islam tidak melarang ataupun mengekang bagi orang kafir untuk menuntut ilmu, bahkan mereka gratis dalam menempuh pembelajaran. Dan sesungguhnya islam menyamakan antara anak orang kaya dan orang miskin dalam pembelajaran, dan tidak ada perbedaan dalam menuntut ilmu, seperti halnya islam berseru bahwa sesungguhnya manusia itu sama dan tidak ada yang lebih utama diantara orang arab dan orang asing kecuali dengan taqwanya kepada Allah SWT dan ini adalah suatu perwujudan dalam demokrasi keadilan dan persamaan derajat dalam islam.
           
Bahwa islam tidak mengekang peserta didik dalam dunia kependidikan, seperti halnya dalam perguruan tinggi, yang mana para mahasisiwanya akan selalu mandiri tanpa menunggu perintah dalam menimba ilmu, dan juga mereka mengimbangi hidupnya dengan cara menghormati guru, ulama’ dalam setiap kehidupan mereka maka tidak ada kesempatan sedikitpun untuk berhenti dalam perjalanan pendidikan yakni menuntut ilmu, dan semua itu hanya mengharapkan ridho Allah semata.
           


Dalam hal ini semua murid dapat mendapatkan ilmu serta dzatnya melauli ulama’ – ulama’, sastrawan, ilmuwan, pengarang, seperti : IBNU SINA, AL – FARABI, AL – GHOZALI, AL – KINDI, IBNU HAYYIM, TABRI, IBNU ASIR, JAHOT, AL – MA’ARI DAN AL – MUTANNABI.
           
Maka janganlah kamu terkejut, bahwasanya ilmu mereka berlanjut dan berguna untuk semua dan kitab mereka berguna untuk para peserta didik. Dan bukan pasti para cendikiawan itu dari golongan orang yang kaya saja, tapi cendikiawan banyak dari golongan orang miskin. Maka dari itu terdapatlah diantara mereka pembesar dari ahli fikih, ahli tafsir, ahli hadits, ulama’ bahasa dan sastrawan yang mana menjaga agama, ilmu dan adab yang merupakan suatu khidmah yang sangat besar yang man menjadikan suatu benda yang berharga  bagi mereka.
Seperti dalam hadits yang berartikan sebagai berikut :
            ”Jika anak Adam meninggalkan dunia ini maka hilanglah segala amalnya kecuali tiga perkara yakni : 1. shodaqoh jariyah   2. ilmu yang bermanfaat    3. anak sholeh yang mendoakan orang tuanya ”.

D. ANALISIS
           
 Pendidikan agama islam adalah ikhtisar manusia dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengajarkan fitrah agama pada anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama.
Lapangan pendidikan agama islam menurut Hasbi Ash – shidqi maliputi :
  1. Tarbiyah Jismiyah yaitu segala rupa pendidikan yang wujudnya menyuburkan dan menyehatkan tubuh serta menegakkannya, supaya dapat merintangi kesukaran yang dihadapi dalam pengalamannya.
  2. Tarbiyah Aqliyah yaitu sebagaimana  rupa pendidikan dan pelajaran yang akibatnya mencerdaskan akal menajamkan otak semisal ilmu berhitung dan sebagainya.
  3. Tarbiyah Adabiyah yaitu segala rupa praktek maupun berupa teori yang wujudnya meningkatkan budi dan perangainya yang merupakan salah satu ajaran pokok yang mesti di ajarkan agar umatnya memiliki akhlaq yang mulia.

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق ( رواه احمد)

          Adapun pendidikan agama islam sangatlah menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan dalam menentukan system belajar mengajar, dengan adanya itu maka tidak ada tekanan antara pendidik dan peserta didik. Dan semua itu juga dapat terlihat serta dapat diulas bersama melaui system pendidikan nasional pada masa sekarang di Indonesia. Yang pada dasarnya semua bersumber pada sistem pendidikan islam.

            Pendidikan agama islam  mengedepankan kebebasan dan demokrasi, pada hakikatnya Demokrasi adalah kedaulatan yang berada ditangan rakyat, dan oleh karena itu maka rakyatlah yang menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesejahteraan bangsa dan juga negara tidak hanya memihak kepada golongan yang paling besar. Dari sinilah dapat dipahami bahwa demokrasi didalam pendidikan islam ini tidak menekan ataupun mengekang seseorang  (peserta didik) dalam menempuh pendidikan dan juga menghilangkan kesenjangan sosial ataupun kecemburuan sosial dalam sistem belajar mengajar serta menghapuskan klasifikasi dalam islam karena dalam islam semua memiliki kesempatan yang sama dalam menentukan masa depan melalui pendidikan.

E. KESIMPULAN
           
 طلب العلم فريضة علي كل مسلم ومسلمة

Ø  Islam telah mewajibkan atas setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu khususnya agama sebagai dasar ataupun pondasi dalam diri manusia, dengan adanya kebebasan dengan maksud tidak ada tekanan ataupun pengekangan untuk menempuh pendidikan.

Ø  Demokrasi didalam pendidikan islam ini tidak menekan ataupun mengekang (peserta didik) dalam menempuh pendidikan yang pada hakikatnya demokrasi adalah kedaulatan yang berada ditangan rakyat, dan oleh karena itu maka rakyatlah yang menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesejahteraan bangsa.

Ø  Mengahapuskan klasifikasi dalam islam dalam menempuh pendidikan antara miskin dan kaya juga menghilangkan kesenjangan sosial ataupun kecemburuan sosial dalam sistem belajar mengajar.


F. IHTITAM
           
Demikian makalah yang kami susun, bangga hati kami jika kebenaran yang terpatri disini, namun saran dan kritik tetap kami harapkan guna meningkatkan kemampuan kami dalam memperoleh sesuatu yang berharga demi terciptanya suatu pendidikan yang dicita – citakan oleh bangsa Indonesia yang termuat dalam Pembukaan Undang – undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta meneruskan perjuangan para pendahulu kita untuk memajukan dan mencerdasan serta mensejahteraan anak bangsa ini, amiin.

                                                                                         


Selasa, 23 April 2013

AL ISLAM


AL – ISLAM

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah  MSI
Fakultas Syari’ah Semester I
Dosen Pengampuh: Bpk. Drs. Saifuddin Bahri, M.Ag






Disusun Oleh:
1.     Ahmad Rizal Irham
2.     Ahmad Munawir
3.     Ahmad Luthfi
4.     Sobirin
5.     Anisatun Nadhiroh
6.     Alyatur Ridho’ah
7.     Siti Rochmatun



INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA

2010





Kata Pengantar

Puji syukur Al-hamdulillah kita selalu panjatkan kepada Allah Swt, yang senantiasa telah memberikan hidayah, inayah, serta taufiq- Nya kepada kita semua sehingga kita bisa menjalankan aktivitas sehari- hari
Sholawat Maassalam tetap tercurahkan kepada Nabi agung Muhammad Saw dan semoga kita termasuk umatnya di yaumul qiamah ini.
Berkat rahmat Allah, maka tersusunlah makalah ini dan kami sampaikan terima kasih kepada:
  1. Bpk. Drs. Saifudin Bahri, M.ag yang telah memberi dorongan dan waktu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
  2. Semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini
Dan yang terakhir dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfa’at bagi pembacanya.
                                                                                                                  Penyusun

                                                                                                                       Kelompok II














BAB I
PENDAHULUAN

Agama Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah dan diturunkan kepada Nabi M uhammad Saw. Dan dalam Islam banyak terkandung ajaran-ajaran yang harus yang diridhoi oleh Allah Swt.
Islam juga dikenal karena kelembutannya, tidak mengajarkan akan kekerasan dan menunutun manusia kearah Illahi robbi.
Untuk itu kami akan menjelaskan Islam baik dari  bentuk, sumber-sumber hukum, dan yang lainnya supaya kita mengerti dan paham apa itu Islam.
                                                                                                  Penyusun

                                                                                                             Kelompok II


















BAB II
PEMBAHASAN
AL- ISLAM

  1. Pengertian Islam
Secara etimologis Islam berasal dari kata aslama yang berarti “menyerahkan diri”. Secara substansial kata ini mengandung banyak pertanyaan yang sempat dilontarkan kepada Rasullullah oleh seorang yang tak dikenal. Selanjutnya dengan cara gamblang Rasulullah Saw menjelasakan bahwa kata Islam mengandung tiga dimensi dasar yang saling terkait yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Dengan pengertian bahwa seseorang yang menyatakan dirinya eorang Islam dia harus memenuhi trilogi tersebut. Didalam hadis lain juga disebutkn pengertian tentang Islam, yaitu syahadat, sebagai bentuk penyaksian diri bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, melaksanakan puasa Ramadhan, membayar zakat dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah
Di dalam al- Qur’an banyak disebutkan kata Islam dengan beragam kata jadinya, sebgaimana dalam QS. Al- Maidah: 3 berbunyi:
اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا                                                         
Disebutkan pula dalam QS. Al- Jin: 14 berbunyi:
وانا منا المسلمون ومنا القسطون فمن اسلم فاؤلئك تحروا رشدا                                                                  
Dalam ayat ini kata aslama yang merupakan kata kerja dari Islam mengandung pengertian “ menyerahkan diri dengan penuh ketulusan hati” atau dengan kata lain “ mengikhlaskan”. Islam dalam pengertian ini menjadi titik tolak dari seluruh agama yang dibawa para Nabi sebelum Muhammad. Islam menjadi standar kesejatian semua agama. Sebagaimana tersebut dalam QS. Ali Imran: 85 diungkapkan secara tegas oleh Allah:
ومن يبتغي غير الاسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الاخره من الخسرين                                                         
“Barang siapa mencari agama selain Islam, Maka sekali- sekali tidaklah akan diterima (agama) dari padanya, dan Dia di akhirat termasuk orang- orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 85).
Sikap pasrah (Islam) sebagaimana di atas juga tersurat dalam pesan Allah kepada Nabi Nuh:
وامرت ان اكون من المسلمين                                                                                                         
‘…..Dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (QS. Yunus:72)
Beragam ungkapan al- Qur’an di atas menunjukkan dalam Islam (sikap pasrah) adalah merupakan komitmen dasar yang menjadi titik temu semua agama yang telah hadir di muka bumi ini sesuai dengan tuntutan Illahi. Dan untuk menyampaikan kebenaran itu kepada seluruh umat manusia di muka bumi, oleh Allah diutus para  Nabi dan Rasul yang bertugas menyampaikan pada umatnya di sepanjang sejarah umat manusia.
Dalam pengertian umum, Islam dipandang sebagai nama sebuah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, sebagai lembaga agama (organized religion) yang formal dan mapan atau yang disebut dalam al- Qur’an  sebagai al- din . Meskipun kata al- din ini juga bias dipahami sebagai jalan kepatuhan yang benar ( the true path of obedience).
Sebagai akhir dari uraian tentang pengertian Islam dapat kita ambil dari ungkapan Prof. Dawan Raharjo bahwa Islam dalam, wujudnya memiliki dua bentuk. Pertama, yaitu  Islam sebagai system keagamaan yang  bersifat transendetal yang ideal. Yaitu sebagaimana terrtuang dalam berbagai ilmu keislaman yang merupakan hasil interpretasi atau pemahaman secara kontenkstual para ulama terhadap al- Qur’an dan keteladanan Rasulullah Saw. Kedua, Islam yang tercermin dalam realitas sejarah kebudayaan, peradapan dan masyarakat Muslim.
  1. Sumber Ajaran Islam
        1. .Al- Qur’an.
Al-Qur’an adalah kalam Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammmad dalam waktu kurang lebih dua puluh tiga tahun yang tertuang dalam mushaf (lembaran) yang selanjutnya sebagai pedoman umat manusia sepanjang masa. Ada beberapa  nama lain dari al-Qur’an yang masing-masing menunjukkan fungsinya yaitu: 1) Al-Qur’an, yang berarti bacaan yang harus dibaca, 2) Al-Furqan, pembeda antara yang baik dan yang buruk yang benar dan yang salah, 3) Al-Kitab, berupa tulisan atau yang ditulis, 4) Al-Dikr, berisi peringatan dari Allah Swt, 5) At-Tibyan, merupakan penjelasan dari Allah atas segala sesuatu, 6) Asy-Syifa’, obat penawar hati.
Pertama- tama yang harus kita pahami adalah kedudukan al-Qur’an diantara kitab- kitab semawi lain yang diturunkan kepada umat manusia sejak zama Nabi Adam.
Meskipun inti dai syari’ah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sepanjang umat manusia adalah sama, namun perincian dan cara pelaksanaan masing- masing adalah berbeda. Perbedaan ini adalah dalam rangka penyesuaian terhadap situasi dan kondisi yang berbeda, karena apa yang menjadi msalah dalam kondisi dan situasi yang lain.
Al-Qur’an merupakan kitab yang terakhir diturunkan kepada umat manusia di bumi. Oleh karenanya ia adalah kitab yang paling sempurna yang melengkapi dan menguji segala apa yang ada pada kitab sebelumnya. Jadi kehadiran al-Qur’an tidak lain adalah merupakan respon terhadap kondisi dan situasi yang ada terjadi dalam kehidupan manusia, karena apa yang ada dalam kitab- kitab suci lain telah tidak sesuai lagi dengan konteks ruang dan waktu dimana al-Qur’an diturunkan. Juga karena dalam kitab-kitab lain telah banyak terjadi perubahan dari teks  aslinya. Akibatnya, terjadilah banyak versi tentang kitab yang diturunkan kepada Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad.
Terjadinya perubahan ini bisa jadi karena kesengajaan untuk kepentingan hawa nafsu pribadi dan kelompok tertentu atau akibat ketidaksengajaan tercampur dengan teks- teks lain atau umgkapan- ungkapan lain. Hal ini dibuktikan dengan apa ang dianggap sebagai kitab sucian yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Isa sa’at ini di dalamnya terdapat banyak perbedaan secara  substansial. Kehadiran al-Qur’an adalah dalam rangka menguji kitab- kitab tersebut. Dengan menunjukkan jalan kebenaran yang bersifat universal. Secara tegas hal ini terungkap dalam beberapa ayat al-qur’an berikut:
وما قدروا الله حق قد ره اذ قالواما انزل الله علي بشر من شئ فل من انزل الكتب الذي جاء به موسي نورا وهدي لناس تجعلونه قراطيس تبدونها وتخفون كثيرا وعلمتم مالم تعلموا انتم ولاءاباؤكم فل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “ Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapkah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan penunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran- lembaran kertas yang bercerai- berai, kamu perlibatkan (sebagainya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak- bapak kamu tidak mengetahui(nya)?”. Katakanlah: “ Allah- lah (yang menurunkannya)”. Kemudian mereka bermain- main dalam kesesatannya.”(QS. Al- An’am: 91)
Al- Qur’an adalah kitab yang dijamin oleh Allah dari kemungkinan terjadinya perubahan baik dalam bentuk pengurangan maupun penambahan. Dan Dia akan senantiasa memelihara dan melestarikannya. Dan Dia senantiasa memelihara dan melestarikannya. Hal ini terungkap dalam dua ayat al- qur’an berikut:
فال هذا صراط على مستقيم                                                                                                            
“ Allah berfirman: “ Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku- lah (menjaganya)” (QS. Al- Hijr: 41).
  1. As- Sunnah
As- Sunnah berasal dari kata sanna yang berarti jalan baik maupun yang tercela. Atau sebagaimana yang disampaikan oleh an- Na’im yaitu menciptakan sesuatu dan menjadikannya suatu model. Atau dengan kata lain adalah tingkah laku yang patut dicontoh. Merujuk pada pada bebeapa hadis Nabi yang antara lain menyatakan: “ barang siapa membuat sunnah yang terpuji maka baginya pahala sunah itu dan pahala orang lain yang mengamalkannya, dan barang siapa menciptakan sunnah yang buruk padanya dosa sunnnah buruk itu dan dosa orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat” (Hadis Muslim)
Secara umum sunnah dapat diartikan sebagai tingkah laku yang histories dapat dibuktikan sebagai perilaku Nabi Muhammad Saw dan para para sahabatnya yang secara keseharian hidup dalam lingkungannya.
Musthafa asy- Syiba’i menjelaskan dalam bukunya as- Sunna Wa Makanatuba Fi Tasyi’ Al- Islami, bahwa terjadi perbedaan antara para ulama tentang pengrtian as- sunnah. Dalam pengertian ulama ahli Hadis Sunnah didefisinikan sebagai sesuatu yang didapat dari Nabi Muhammad Saw yang terdiri dari sabda, perbuatan, persetujuan, sifat fisik, atau budi pekerti, atau biograf baik masa sebelum kenabian maupun sesudahnya. Menurut ahli ushul, sunnah adalah seuatu yang diambil dari Nabi Saw yang terdiri dari perkataan, perbuatan, dan persetujuan.
Sebagaian para ulama menggunakan kata Sunnah dalam setiap sesuatu yang mengandung dalil syar’i baik yang berasaldari kitab suci maupun uang bersal dari ijtihad sahabat. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad Saw. “ Hendaknya kamu mengikuti sunnahku dan Khulafau’urrasyidin sesudahku.”
Berbeda dengan pengertian diatas, menurut ahli fiqh sunnah berarti salah satu hukum Islam selain wajib, haram, makruh dan mubah. Di lain pihak ada yang memberi pengertian sunnah sebagai lawan dari bid’ah.
Yang menjadi penyebab perbedaan diantara para ulama disini adalah karena perbedaan tujuan mereka dalam menggunakan istilah sunnah sesuai dengan disiplin ilmu yang dikembangkannya. Adapun dalam peristilahan sunnah disni yang lebih mendekati pembahasan kita dalam hal ini adalah sunnah dalam pengertian para ahli ushul (ushuliyyun). Yaitu sunnah dalam peranannya sebagai sumber dasar hokum Islam  (hujjah) dan keduduknnya dalam menetapkan syari’ah.
  1. Ijtihad
Secara harfah ijtihad berarti upaya seseorang untuk melakukan sesuatu pekerjaan secara giat. Adapun ijtihad secara hokum Islam bermakna usaha seseorang untuk memecahkan persoalan hokum yang tidak ditemukan jawabannya baik dalam al- Qur’an maupun As- sunnah melalui proses nalar dengan menggunakan teori-teori secara indenpenden.
Ijtihad dapat dilakukan secara individu dengan bersama sama. Ijtihad individu yang dilakukan oleh seorang ulama dalam memutuskan atau menjawab suatu persoalan disebut dengan ijtihad fardi sedangkan ijtihad yang dilakukan oleh para ulama secara bersama- sama disebut  dengan ijma’.
Ada persoalan mendasar yang seringkali muncul dalam kaitannya dengan ijtihad ini. Persoalan ini muncul didasarkan pada pemahaman kita bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang paling sempurna yang akan memberikan jawban terhadap segala persoalan yang dihadapi oleh umat manusia sepanjang maa. Ia adalah kitab suci bagi agama yang telah diproklamasikan oleh Allah sebagai agama yang telah disempurnakan oleh- Nya. Apakah mungkin kita mempersoalkan agama  yang telah disempurnakan itu Bukankan ijtihad merupakan proses kreatif untuk memahami dan merumuskan hukum yang tidak kita temukan dalam al-Qur’an?.
Sebagaimana yang dikemukakan diatas bahwa al- Qur’an adalah merupakan respon Illahi terhadap kondisi sosio- histories masyarakat Arab pada maa Nabi Muhammad Saw. Keberadaan al-Qur’an sebagai sumber segala sumber hukum Islam harus dipahami dalam kerangka histories sosiologis masyarakat disa’at mana ayat- ayat al- Qur’an diturunkan. Pemahaman kita terhadap kronologis turunnya al-Qur’n akan dapat membantu kita dalam rangka memahami ide dasar yang terungkap maupun yang tersembunyi dalam ayat yang turun ketika itu. Disamping itu, dengan pemahaman terhadap kondisi sosio- histories masyarakat Arab secara keseluruan baik pada masa sebelum kenabian maupun sesudah kenabian kita akan dapat mengungkap ide moral dari ayat al-Qur’an yang bernilai universl. Yang demikian ini merupakan bagan dari aktivitas ijtihad. Untuk itu Fazlur Rahman mendefisiikn ijtihad sebagai upaya untuk memahami teks atau peristiwa yang relevan di masa lampau dengan memperluas atau membatasi dan memodifikasikannya sedemikian rupa sehingga situasi baru dapat tercakup di dalamnya dengan solusi yang baru. Dengan pengertian lain bahwa mustahil untuk dapat memahami teks al- Qur’an meskipun tidak jelas dan terinci, tanpa menggunakan ijtihad. Karena dalam penalamannya, teks al- Qur’an harus disesuaikan dengan kondisi sosio cultural masyarakt tertentu dimana al-Qur’an dipahami.
Oleh karenanya yang mungkin melakukan  ijtihad ini adalah mereka yang mampu dapat melakukannya secara metedologis dan ilmiah.
















BAB III
PENUTUP

Pembicaraan tentang Islam adalah pembicaraan yang tak berujung. Allah Rabbul-'alamin  telah memilih dan mengangkat para Rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Peraturan hidup itu ialah yang dinamakan ISLAM, agama yang dibawa oleh semua Rasul. itu telah mengajak manusia ke jalan Tuhan al-Khaliq, yakni jalan tunduk kepada Allah Swt. Semua Rasul telah menyampaikan risalah yang sama dan dakwah yang sama, yaitu Islam.
Islam dalam bahasa Arab, berarti tunduk dan menyerah atau taat. Sebagai satu agama, Islam berdiri di atas dasar menyerahan diri sepenuhnya dan taat kepada AIlah Swt. Itulah pula sebabnya, makanya agama ini dinamakan Islam.
Islam juga berarti selamat dan sejahtera. Pengertian ini menunjukkan bahwa, manusia tidak akan dapat mencapai keselamatan dan kesejahteraan yang sebenarnya, kecuali dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Cara hidup seperti inilah, yang tetap di bawah naungan ketaatan kepada Allah Swt, hidup yang selalu diliputi ketenangan jiwa bagi perseorangan dan kesejahteraan/ketentraman bagi masyarakat
Demikianlah, sebagai kata penutup dari penullis, dengan harapan adanya kata penutup ini, rekan pembaca sekalipun lebih yakin bahwa Islam adalah agama dari Tuhan, berisi tuntunan hidup yang diwahyukan kepada hambaNya untuk seluruh ummat manusia.